Roda sepedaku akan terus menjangkau sisi lain dunia

Hai sobat ... Di tengah kesibukanku sebagai anak kelas XII di sekolah yang super sibuk nya minta ampun, ada sedikit coretan-coretan yang pingin aku share ke kalian. Hehe ya beginilah, dengan menulis aku bisa melampiaskan semua amarah yang terkumpul di otak. Pernah kubaca sebuah artikel yang bilang, jika amarah tersebut tak pernah dilampiaskan bisa bisa otak kita gak kuat nahannya (alias konsleting otak).

Kali ini aku pingin mbahas tentang olahraga yang sedang nge-trend saat ini. Bersepeda atau istilah gaulnya gowes. Ditengah ramainya modernisasi teknologi, orang mulai sadar akan pentingnya menghargai lingkungan hidup. Mereka mulai sedikit demi sedikit mengurangi polusi yang menjadi beban lingkungan. Salah satunya mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dengan bersepeda.

Yap, Bersepeda menjadi trend akhir-akhir ini. Banyak kalangan yang mengampanyekan kegiatan ini. Yang sering masuk berita sih, ocehannya Pak Jokowi yang mengharuskan para PNS di Jakarta menggunakan sepeda ke kantor pada hari Jumat. Sebuah pemandangan yang tak biasa melihat seorang pejabat gowes, yang dulu katanya "gowes" hanya milik orang yang gakpunya. Sekarang semua fakta telah berubah. Orang yang punya uang malah memilih untuk memarkirkan kendaraan mewahnya dan sengaja untuk bersepeda. Tapi orang yang gapunya masih punya rasa gengsi jika menggunakan sepeda, mereka lebih PD jika menggunakan motor, walaupun ngutangnya belum lunas. Yah begitulah, keanehan di negeri ini. Sekali lagi kesadaran masyarakat akan pentingnya menghargai lingkungan hidup, serta meninggalkan rasa gengsi dan iri.

Banyak fakta-fakta menarik tentang GOWES. Yang pertama yaitu menjamurnya komunitas atau club gowes di setiap kota. Banyaknya pengguna sepeda di kota tersebut serta kesamaan misi dan tujuan membuat mereka menyatukan diri membentuk sebuah club. Ada club yang punya tujuan untuk menampung anggota yang gemar gowes-gowes jarak jauh, ada yang cuman yang bertujuan mengumpulkan mereka yang cinta lingkungan. Masih banyak alasan lagi dari berdirinya sebuah club. Yah walaupun aku gak ikut dari salah satu klub tersebut, tapi aku pernah dapet pengalaman menarik saat Single Speed ke Doro. Berangkatnya sih sendirian, tapi untung ada club dari Wiradesa yang nemenin di tengah jalan. Syukur deh gak kesepian. Merekanya juga baik2. Walaupun baru pertama kali kenal, mereka tetep ramah dan memberi support. So, bagi kalian yang gak ikut club gausah sedih, kalian gak bakal gowes sendirian kog, ditengah jalan masih banyak goweser yang bakal nemenin kalian.

Lanjut ke fakta kedua. Tau gak kalau ada peraturan tentang jalur khusus buat sepeda. Yap Undang-Undang no 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang ngatur semua itu. Salah satu pasalnya berbunyi "Fasilitas pendukung penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan meliputi : Lajur Sepeda." Tuh, dah jelas kan kalau pemerintah seharusnya menyediakan lajur khusus buat para pengguna sepeda. Di setiap kota mesti ada jalur yang dikhususkan untuk pengendara sepeda. Contohnya sendiri di kota Pekalongan. Ada dua jalaur sepeda yang kutahu yang ada di kota ini. Satu di Jalan Hayam Wuruk, dan satu lagi di Jalan Hasanudin. Tapi nyatanya jalur sepeda tersebut malah digunakan sebagai lahan parkir. Pesepeda sih masih bisa manfaatin lajur tersebut, tapi harus sangat berhati-hati dengan pengendara motor yang terkadang gak menghormati pengguna sepeda.

Fakta ketiga apa ya. Ehm, sekarang-sekarang ini budaya bersepeda sudah mulai masuk ke otak orang Indonesia. Buktinya adalah meningkatnya penjualan sepeda lipat. Yap, sepeda lipat. Bagi mereka yang tertarik dengan gowes, tapi jalanan di kotanya sering macet dan lajur sepedanya dicuri oleh Tukang Parkir, solusinya adalah sepeda lipat. Sepeda lipat sangatlah simple, tinggal kita lipat dan kita masukkan ke bagasi mobil, terus kita bawa ke tempat-tempat seperti taman kota yang enak buat ngelampiasin kangen kita ma gowes ditengah padatnya jalanan. Cara seperti ini yang dilakukan oleh warga Jakarta dan kota besar lainnya. Event Car Free Day juga menambah poin positif bagi mereka yang ingin nyoba gowes. Oh ya, sepeda lipat ini kereen lho. Ukuran normalnya yang sekitar 120cm dapat kita lipat menjadi 30-50 cm tergantung merknya. Simple dan ringkes. Dan bagi kalian yang takut kalau sepedanya bakal dicuri, sepeda ini bisa dibawa masuk ke ruangan kog, massanya cukup ringan karena terbuat dari campuran alumunium.

Ngomong-ngomong, jika 5% pengguna mobil dan motor bersepeda efeknya apa ya? Efek yang jelas terasa adalah mengurangi konsumsi bahan bakar, mengurangi jejak karbon, dan menyehatkan badan. 97,5 juta liter BBM dapat dihemat jika mereka mau berubah pikiran dan menggunakan sepeda untuk pergi ke kantor atau ke sekolah. Jika dihitung-hitung, 20 menit per hari bersepeda kita bisa menghemat 1,25 liter BBM. Kalau gini sih, gak ada lagi isu mengurangnya cadangan BBM. Selain itu, emisi gas rumah kaca juga berkurang hingga 310ribu ton. Itu dia fakta keempat. Bersepeda dapat mengurangi polusi dan menghemat bahan bakar.

Sudah ada 4 fakta tentang gowes. Kehabisan inpirasi nih. Gapapa yaps...

Oh ya, gowes itu menarik kog. Jika pikiranmu penat, sibuk mikirin pelajaran, pekerjaan yang numpuk, n otak dah bener-bener macet. Keluarkan sepedamu, luangkan 20 menit buat gowes, ngeliat kehidupan di sekitar kalian. Barangkali ada semangat kalian yang tertinggal disitu dan kalian bisa membawanya ke rumah atau ke kantor. Gowes bukan olahraga orang pinggiran kog. Gowes itu gak pilih kasih, mau orangnya pejabat walikota, mau orangnya kuli bangunan, semua kalangan bisa nyoba olahraga ini. Mau sepedanya bagus, mau harga sepedanya jutaan, ataupun sepeda buntut sekalipun, gak masalah. Gowes gak kenal diskriminasi. Goweser selalu menyapa dan memberi semangat bagi mereka yang berani mengayuh sepedanya. Oh ya, ada satu lagi fakta yang tertinggal. Buat kalian yang masih duduk di bangku sekolah. Come on, Gowes to school. Gowes bikin otak kalian fresh dan siap nerima pelajaran ;) Come on, gabung gowes yuk :) Menjangkau sisi lain dunia bersama sepeda.

Komentar

Postingan Populer