The Flower Thought, Once...
"...Once upon a time, there was a flower which wasn't ideal at all. Nothing was interested with it. Suddenly, a bee came and the flower felt so happy seeing it. But, the bee didn't come to it. The flower try its best to be better, to be ideal. When it hoped for that, its owner gave the best fertilizer that made it grew better. Even it grew better, the bee still didn't come because it already had its flower. Next next day, the bee came and realized about the flower. The flower felt very happy. But, the happiness couldn't be there for long time. Because suddenly, the bee went towards another flower. After this, the flower felt disappointed. It couldn't believe the bee could do that to it. The flower thought the bee had seen the flower. "I tried ma best to be better, to grow better, to be a good-in-all-aspects flower. But may be, the bee didn't deserve me and i'm so disappointed that our story just ended like this." the flower thought, once..." -T.I-
Kesibukan terkadang telah merenggut sebagian perasaan cinta. Tak ada lagi kata kata romantis, tak ada lagi coklat atau es krim manis. Semua telah tergantikan dengan rasa cemas melihat setumpuk tugas. Dan saat seperti inilah rasa itu kembali muncul. Kala tumpukan itu telah selesai dan hati ini seperti kosong tak berisi. Ironi. Di tengah-tengah tanah sunda yang penuh dengan 'kembang desa' katanya, ironi masih menyelimuti hati ini. Yah mungkin teorema Einstein tentang relativitas itu berlaku bagi hati ini. Orang menyangka ada isi dalam hati ini. Relatif sih, mau yang isi kayak apa. Yang jelas terlihat hanya berisi Allah dan keluargaku di kampung halaman sana.
Selepas dengan tugas bejibun banyak nya, tak sengaja tangan ini memencet history lama dan keluarlah narration text itu. Singkat ajalah sumbernya dari seorang berinisal TI tentang sebuah cerita lebah dan bunga. Bunga yang manis, menawan, dan mencoba dirinya tetap menarik. Saat itu juga muncullah Lebah yang ingin mencari pesinggahan. Sayang, lebah itu tak meliriknya. Hari berikutnya Bunga mencoba lebih menawan dan tumbuh begitu tinggi berharap Lebah melihatnya. Namun untuk kedua kalinya Lebah tak mau singgah di tempatnya. Bagi Bunga melihat Lebah cukuplah membuat sedikit kebahagiaan baginya. Hari demi hari harapan bunga tak pernah sekalipun tercapai. Yang ia dapat hanyalah sedikit kebahagiaan di hati kecilnya. Tak terasa tubuhnya mulai kecoklatan karena tak satupun sari yang masuk ke rahimnya. Hingga ia pun tersadar bahwa Lebah itu belum pantas dengannya. Kecewa ...
Harapan tak selalu berakhir dengan indah. Kita bisa saja mengharapkan sesuatu itu datang, tapi hanya Tuhan yang menentukan. Bahkan detik detik terakhir, harapan bisa saja menjadi sebuah malapetaka yang tak pernah diharapkan. Belajarlah untuk merelakan dan tidak berekspetasi terhadap sesuatu yang ada di depan. Bolehlah kita menulis mimpi kita, seperti kata seorang temenku "Tulislah mimpi dengan pensil di selembar kertas, dan berikanlah kertas itu dan penghapus karet kepadaNya. Dan berdoalah, Ya Rabbi, ini mimpiku, aku mohon hapuslah apa yang tak baik bagiku, dan biarkan yang baik itu menjadi mimpiku." Berjalanlah kedepan tanpa ekspetasi apapun. Buanglah kemewahan, karena itulah yang akan menjatuhkan ketika kita telah berada di garis terdepan.
Yah lagi lagi harapan selalu nyambung dengan perasaan. Naluri normal manusia yang akan tertarik dengan lawan jenis. Syukurilah karena itu karunia Tuhan. Yang salah itu, terlalu tertarik hingga kita lupa kalau kita bukan siapa-siapa, lupa kalau kita belum melihat siapa diri kita. Ya itulah cinta. Bak bunga tadi yang tiap hari mengharapkan lebah untuk singgah.
Cinta, sebuah keistimewaan tertinggi di alam ini. Tak akan hidup seseorang tanpa cinta. Karena cinta lah, bunga itu memperbaiki dirinya, terus tumbuh dan tampil menawan, mencoba mencari kesalahan kesalahan dalam dirinya, agar lebah itu singgah. Karena cinta lah seseorang rela bangun malam demi bersujud di depan Tuhannya, di tengah selimut kabut dan udara dingin. Yah cinta. Cinta bak cahaya matahari yang tak butuh medium untuk menyampaikan kehangatannya.
Repotlah kalau berurusan dengan cinta. Ujung-ujungnya baper, mojok, dan nulis-nulis gak jelas gini. Satu yang teringat dalam hati ini, belajarlah untuk mencari cinta, cinta kepada bidadari kecil, cinta kepada indahnya senyum menawannya, cinta kepada apapun ciptaanNya, karena cinta cinta inilah yang akan menghantarkan kita, yang akan memberikan kita jalan untuk mencintai Penciptanya.
Bunga, teruslah tumbuh... Masih ada Lebah dari sebrang samudera yang ingin singgah. Bertahanlah dan berbenah dirimu :) Karena ia adalah sang Raja, Raja Lebah yang akan memberikan kehangatan dan memberitahumu indahnya alam di belahan dunia lain.
"Salam Kenal"


Komentar
Posting Komentar