"Kraton PARTI Night" terinspirasi BCN Bandung
![]() |
| Kondisi Braga Culinary Night di Bandung by @emildfauzi |
Sore hari yang menawan. Matahari tampak malu untuk segera terbenam. Seperti sore biasanya, Pekalongan sangat ramai, lalu lalang kendaraan jejali setiap ruas jalan di kota Batik ini. Niatku sih hanya mengusir penat, mencari udara segar di pinggiran Pekalongan. Sepedaku menuntunku ke daerah Kraton. Barisan orang berbalut seragam hijau lumut plus baret yang melengkapi ke"sangar"annya berjejer rapi membentuk barikade ditengah jalan. Mereka tampak bersiap-siap "merapikan" pedagang-pedagang yang nekat berjualan di tepi jalan. Kenapa harus "dirapikan"? Ada apa sih sebenarnya?
Yaps, berdasarkan peraturan walikota pekalongan, pedagang kaki lima yang berjualan di tepian jalan saat "Pasar Tiban" tidak diperbolehkan. Rencananya mereka akan dipindahkan ke kawasan Stadion Kota Batik. Itu hanya masih sebatas rencana. Ujung-ujungnya para pedagang berdemo di depan kantor wali kota pada beberapa hari yang lalu. Hampir seluruh kegiatan Pasar Tiban (Parti) ini tidak diperbolehkan karena dianggap sebagai biang kemacetan. Memang mereka menggunakan hampir separuh badan jalan untuk menjajakan jualannya. Namun apakah tepat dengan hanya "merapikan" mereka dan memindahkannya ke tempat lain?
Mungkin ini bukanlah bidangku dalam urusan Tata Kota, tapi agaknya hatiku bergerak untuk sedikit memberikan masukan kepada pemerintah. Seharusnya dan memang itu kewajibannya, pemerintah tidak sepihak merapikan pedagang-pedagang ini. Pemerintah harus melihat beberapa aspek berikut, yang melatarbelakangi kegiatan mereka.
1. Lapangan Pekerjaan
Pedagang PARTI yang didominasi oleh penjual baju-baju dan aneka kuliner ini membutuhkan pekerjaan yang layak. Modal mereka yang pas-pasan tak sanggup untuk menyewa beberapa kios atau lapak di mall atau pasar tradisional di Pekalongan. Karena itulah mereka memanfaatkan bahu jalan untuk berjualan. PARTI biasanya digelar di beberapa tempat pada hari-hari tertentu, tidak setiap hari seperti pasar umumnya. Salah satunya di wilayah Kraton tepatnya di sepanjang Jalan Veteran. Bagi warga Pekalongan mungkin tak asing jika pada hari Rabu malam terjebak oleh keramaian di jalan ini. Tak jarang juga sebagian dari mereka menyempatkan untuk membeli.
2. Terjangkau Konsumen
PARTI memang sangat menguntungkan bagi mereka yang berdompet tak tebal. Selain harga yang terjangkau, para warga mengaku tak perlu jauh-jauh ke Mall. Mereka cukup berjalan dari rumahnya tak usah repot-repot mengeluarkan kendaraan. Barang-barang yang dijual pun bervariasi yang menambah poin positif tersendiri. Selain itu, PARTI juga bisa dijadikan tempat menghilangkan penat karena padatnya rutinitas harian. Terjangkau sekaligus sebagai tempat refreshing.
Jika PARTI dipusatkan di kawasan Kraton, konsumen malah akan susah menjangkaunya. Dan akan cenderung menambah keramaian dan kemacetan. Jika PARTI diadakan di tiap kecamatan, akan meminimalisir kedatangan konsumen dari wilayah lain. Apalagi jika ada sterilisasi kendaraan di daerah tersebut.
3. Biang Kemacetan?
PARTI ini memang memakan hampir separuh bagian dari Jalan. Masih di Parti Kraton. Jika "Macet" menjadi satu-satunya alasan mungkin sangat kurang tepat. Okelah di Jalan Veteran ini ada RSUD Kraton yang merupakan tempat umum dan sangat vital. Tapi masalah ini bisa diatasi dengan hanya melarang pedangang berjual tepat di depan RSUD demi kelancaran kegiatan rumah sakit. Selain itu banyak jalur-jalur tikus disekitar itu yang bisa dilalui jika terjadi kemacetan dan Jalan Veteran sangatlah lebar. Toh, PARTI tidak diadakan setiap hari
Mungkin 3 aspek sudah cukup menggambarkan bahwa kehadiran PARTI di tengah-tengah masyarakat sangatlah menguntukan. Para pedagang merasa terbantu begitu juga dengan konsumen. Bagi pengguna jalan, mungkin melambatkan kendaraannya untuk beberapa waktu tak apalah. Jika kita melihat di kota Bandung, pemerintah malah memfasilitasi kehadiran pasar-pasar seperti ini. Salah satu yang masih menjadi perbincangan adalah Braga Culinary Night. BCN merupakan acara yang hampir sama dengan PARTI di kota pekalongan. Walaupun sama-sama menggunakan jalan sebagai tempat pedagang berjualan, jalan yang digunakan untuk BCN steril dari kendaraan. Sejak sore, jalan ini sudah ditutup untuk kendaraan. Konsumen yang ingin kesana harus berjalan kaki. Dengan berjalan kaki mereka lebih mudah memilih barang daripada berkeliling dengan kendaraan. BCN memang khusus menjual aneka kuliner khas Bandung. Acara ini pun menjadi inspirasi wilayah-wilayah lain di Bandung. Dengan ini masyarakat lebih mudah menemukan pasar-pasar rakyat karena di setiap daerah acara seperti ini juga ada.
Berkaca dari Braga Culinary Night, bisakah Pekalongan membuat sebuah terobosan seperti itu juga. Akan lebih menarik mungkin. Satu tempat yang sangat mungkin bisa mengadakan acara ini di Jalan Veteran. "Kraton PARTI Night". Namanya cukup menggelitik dan akan membuat warga penasaran. Sterilisasi jalan di daerah "Kraton PARTI Night" juga akan menambah kelancaran. Kemacetan juga bisa dihindari karena warga berjalan kaki ketika melintasi jalan ini atau berputar arah memanfaatkan jalur tikus untuk sampai tempat tujuan. Selain memberi tempat bagi para pedagang untuk tetap melangsungkan pekerjaannya, "Kraton PARTI Night" dapat menjadi destinasi tersendiri bagi warga.
Inspirasi-inspirasi seperti inilah yang mungkin bisa memecahkan permasalahan antara pemerintah dan pedagang. Mempertemukan kedua pihak dan duduk bersama satu meja untuk mencari solusi yang terbaik. Pedagang butuh penghasilan, dan seharusnya pemerintah memfasilitasinya bukan malah mengurangi penghasilannya dengan mengasingkannya.
"Setiap Kesulitan Pasti Ada Kemudahan"



Komentar
Posting Komentar