Rintihan Sungai Batik


Pekalongan, sebuah kota admistratif yang terletak di pesisir utara Jawa Tengah. Kota ini sering dijuluki sebagai kota batik. Ya, Kota BATIK. Sebagian besar warga Pekalongan memang berprofesi sebagai pengrajin batik. Setiap kelurahan atau desa memiliki ciri khas sendiri dalam batiknya. Hampir semua lini kehidupan di Pekalongan identik dengan batik. Begitu juga dengan sungai yang mengalir di Pekalongan. Karena terlalu fanatik dengan batik, sungai-sungai di Pekalongan juga turut dijadikan media membatik bagi warga Pekalongan.

Ada beberapa sungai yang melintasi kota Pekalongan. Yang paling terkenal adalah Sungai atau Kali Loji. Pemandangan yang biasa jika melihat Sungai Loji selalu berwarna. Terkadang hari ini berwarna merah dengan corak coklat, mungkin besok akan berganti warna menjadi hijau berlapis kuning. Menarik bukan. Sungguh memang warga Pekalongan sangat kreatif, sungai pun dijadikan media membatik. Jika kita melihat 10 tahun ke belakang, Sungai Loji adalah sumber air bagi warga-warga di Pekalongan. Sungai ini sangat bersih, elok, dan asri untuk dilihat oleh siapapun yang melihat. Berbagai macam aktivitas warga, seperti mandi, mencuci, dan lain sebagainya dilakukan di sungai ini. Namun, seiring berkembangnya revolusi industri, pabrik-pabrik batik mulai berdatangan dan membangun investasinya di dekat sungai ini. Alhasil, Sungai Loji menjadi korban akibat kehadiran pabrik-pabrik tersebut.

Pabrik-pabrik yang berdiri di dekat Sungai Loji tiap hari mengalirkan limbahnya menuju sungai ini. Contohnya saja, pabrik di sekitar kelurahan Bugisan. Aliran limbah dari pabrik tersebut langsung keluar dan bercampur dengan air sungai. Berpuluh-puluh meter kubik limbah setiap hari dikeluarkan pabrik tersebut. Itu sebabnya muncul julukan bagi sungai ini, SUNGAI BATIK.  Pabrik tersebut hanya sebagian kecil dari dari puluhan pabrik yang turut menyetor limbahnya ke "sungai batik". Walaupun sudah jelas-jelas tertera papan yang melarang pembuangan limbah ke sungai. Namun papan tersebut hanya sebatas papan. Mungkin banyak orang berpendapat, papa tersebut hanya sebagai hiasan atau bahkan pelengkap sungai loji yang kian hari nasibnya semakin mengenaskan.

Larangan pemerintah, "Dilarang Membuang Limbah dan Sampah ke Sungai" hanya tertempel begitu saja di tepian sungai. Tak ada tindakan tegas yang membantu papan larangan tersebut. Seakan-akan pemerintah angkat tangan dan menyerahkan seluruhnya keada "papan larangan" untuk mencegah warga dan pabrik tidak membuang sampah dan limbah ke sungai. Undang-undang yang dibuatpun hanya sebagai pemanis "papan larangan". Apalagi dengan ancaman denda yang terpampan. Semua peraturan atau undang-undang tersebut seperti tak memiliki makna apapun. Pabrik-pabrik dan warga di Pekalongan masih tetap membuang limbah ke sungai-sungai di Pekalongan. Sampai kapan pun, "papan larangan" hanya benda mati yang tak bisa mencegah pembuangan limbah tersebut ke sungai. Harus ada kontribusi dari pemerintah untuk ikut turun tangan membantu "papan larangan" tersebut. Selain itu, kesadaran warga dan pengelola pabrik juga dibutuhkan dalam menyelesaikan kasus ini.

Masih ada langkah-langkah lain selain hanya memasang "papan larangan". Salah satu langkah yang bijak adalah sosialisasi ke pabrik-pabrik atau ke kampung-kampung pengrajin tentang bagaimana pengolahan limbah yang baik. Hal ini juga bisa digunakan untuk meningkatkan kesadaran warga terhadap lingkungan hidup. Jika masyarakat dapat mengubah pola pikirnya, bukan tidak mungkin sungai di Pekalongan akan kembali ke hakikat aslinya sebagai penyeimbang ekosistem.

Cara-cara diatas bukan hanya sekedar teori-teori yang dibukukan dalam ensiklopedia. Semua isu diatas harus mendapat perhatian. Banyak pihak yang akan terus dirugikan, jika sungai terus menerus menjadi tempat penampungan limbah-limbah perusak lingkungan. Sungai memang tidak bisa mengeluh akan nasibnya yang tiap hari kesakitan. Mereka butuh uluran tangan kita. Tidak hanya pemerintah atau pabrik-pabrik yang terus dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran masyarakat juga perlu ditingkatkan. Bolehlah Pekalongan identik dengan semboyan "The World's City of Batik". Tapi tidak untu sungainya. Tidak semua lini kehidupan di Pekalongan harus identik dengan batik.

Komentar

Postingan Populer