Menangis atau Tertawa?

"Tuhan selalu bersama kalian yang berupaya"

Sebuah potongan firman Allah yang dikutip kembali oleh Kang Emil di salah satu tulisannya menggugahku untuk sedikit bercerita. Hari ini mungkin nanti siang atau ntah waktu yang tak kutahu itu. Adek adekku SMA menerima sedikit hasil dari ikhtiar mereka. Ya, hari ini adalah pengumuman SNMPTN. Sebuah hadiah prestisius yang cukup dinanti nanti mereka. Mungkin aku dulu salah satu yang ada di posisi mereka. Takut gak diterima selalu jadi bayanganku hingga membangunkan ku tiap malam. Untunglah sholat malam menjadi penyejukku dan membuatku bisa tertidur kembali. Hingga hari itu pun tiba ...



Malam ini aku ingin berbagi kepada adek-adekku 2015 yang mungkin saat ini gabisa tidur nyenyak memikirkan apa yang terjadi esok :) Allah always stay with us. Yah gara-gara gabisa tidur juga habis pulang dari lapangan terlalu malam, angkrem di sekre ada koneksi haha.

Mei 2014 ntah kapan itu terjadi dulu. Hari itu dunia seakan sekarat, jarum detik berhenti sesaat, awan-awan tak bergerak diatas pundak-pundak dari puluhan teman-temanku. Satu, dua, puluhan teman-temanku melihat nasibnya. Situs web yang kami buka sama, tapi nasib kami berbeda. Hanya ada dua orang yang waktu itu mendapati nasibnya di Kampus Ganesha. Hari itu Aku berharap Tuhan mengubah kehendaknya mengirimkan lebih banyak temanku di Kampus ini. Namun, Tuhan punya kehendak lain bagi mereka. Hanya ada namaku dan Bintang yang tertera di kampus ini. Dulu pernah aku terbayang bisa hidup disini bersama teman-teman sekelasku dulu yang juga ingin belajar di kampus ini. Kembali belajar bareng, main game CS bareng, curhat-curhat gak jelas arahnya, bisa kulakukan lagi bersama mereka. Aku masih teringat waktu itu... melihat tak ada nama mereka.

Tak ada yang tahu mungkin. Beberapa hari tidurku tak nyenyak, terbayang impian itu. Sudut mataku selalu basah tak kuasa menahannya ketika melihat mereka masih bersemangat. Tapi itulah kenyataan Tuhan yang tak bisa aku tolak. Tuhan telah mengijinkanku untuk membuat rencana, aku pun harus rela ketika Tuhan tak meng"acc" proposal yang kuajukan. Semuanya punya hak. Tapi banyak dari mereka yang tak rela. Ya termasuk aku, itu maklum ... hanya masalah waktu untuk membuatnya rela menerima itu. Melihat mereka menangis terisak, keluar rumah ke teman dekatnya kembali nangis, tak ada kata dari mulutnya yang keluar. Hingga eskrim dan coklat jadi pelampiasan berikutnya. Untunglah hanya 2-3 hari.

Setelah beberapa hari, aku bisa merelakan semua ini terjadi, dan sedikit membantu mereka bangkit, mengajari mereka SBMPTN. Air itu selalu bertahan di sudut mata ini, tak pernah bisa menetes melihat semangat teman-temanku bangkit. Aku tak pernah terbayang ketika aku ada di posisi mereka. Mentalku terlalu cupu untuk bangkit dari cobaan paling dahsyat ini. Gatau aku harus ngapain jika waktu itu aku harus SBMPTN... Mungkin Tuhan mengirimku ke sisi dunia yang berbeda dari mereka. Dengan amanah yang berbeda dari mereka.

Lama aku tak menemukan jawaban kenapa aku yang dipilihNya di kampus ini. Hingga kemarin (mantan) Kadiv di divisiku bilang "Amanah tak akan pernah salah memilih tuannya." Tuhan telah mengatur semuanya dengan sangat indah. Memberikan amanah kepada mereka dengan jalan yang berbeda-beda. Bagiku, pejuang sejati adalah mereka yang bisa lepas dari kesombongannya. Bukan siapa yang ia diterima karena SNMPTN ataupun lolos dari kerasnya SBMPTN.

Kesombongan lah yang terkadang meruntuhkan tali pertemanan. Ya, banyak dari mereka yang diterima SNMPTN tak kuasa menekan euforia hingga tak sengaja menekan tombol "alert" pertemanan. Pesan saja bagi kalian yang nanti kalian mendapatkan amanah terlebih dahulu melalui SNMPTN ini, silahkan pilih dua opsi ini, Menangis atau Tertawa? melihat teman kalian yang tak seperti kalian. Tetap jaga pertemanan, tekan erat-erat kesombongan... bantu mereka yang tak seberuntung kalian. Mungkin kita dipilih untuk membantu mereka... 

Silahkan tunggu 17.00 WIB... Lebih banyak dari kalian yang akan "Menangis atau Tertawa?"

Komentar

Postingan Populer