Cobalah untuk Out of The Box
"Apa yang telah terjadi sekarang, besok, atau kemarin telah tersimpan dalam memory lauh mahfudz yang tertulis dengan batu ruby dan cahaya serta tersimpan ketat terjaga oleh rantai mutiara"
Sebuah kata yang menyentuh terlalu dalam pikiranku. Kalimat yang tertulis dalam buku "Islamic Golden Perspective" ini begitu dalam diluar akal manusia. Sistem pencatatan alam semesta yang begitu banyak, dan mungkin tak hingga bagi manusia tercatat rapi dengan paduan ruby dan cahaya. Sebuah sistem yang tak terpikirkan manusia yang sekarang masih menggunakan magnetic. Thingking out of the box. Ya, berpikir diluar akal pikiran terus menerus dikoar-koarkan di setiap sudut kampus ini. Bagi sebagian orang masa bodoh dengan pemikiran ini, dalam angan mereka dunia ini hanyalah sebuah kotak kecil yang hanya berisi ini dan itu. Tak mau mengeksplor lebih jauh tentang apa arti dunia yang diciptakan Tuhan ini.
Berpikir di luar kotak mungkin itulah yang menjadi dasar pemikiranku selama ini. Gila mungkin bagi sebagian orang memilih jalan ekstrem mengikuti beberapa kegiatan dalam satu waktu sekaligus. Pernah terbayang seberapa hancur hidupku esok ketika amanah-amanah itu datang memilihku. Ingin sekali ku menolaknya, tapi entah keegoisan atau sekedar mengisi kekosongan liburan panjang ini dengan kesibukan. Alasan alasan yang tak masuk akal memang...
Beribu alasan ku gali mengapa aku harus tetap memilih amanah-amanah ini. Sempat aku nekat melarikan diri, meninggalkan amanah ini tercecer tak terurus. Namun, subhanallah... tak ada sehari Allah menyadarkanku akan pentingnya amanah ini. Disinilah aku dituntut untuk berpikir di luar otak. Melihat bagaimana keanehan dan kemirisan yang ada di dunia ini. Melihat sebagian orang hanya menengadahkan tangannya di pinggiran jembatan tanpa mau mengemban amanah. Melihat banyak asisten yang harus mengurus ribuan tugas bagi tuannya yang terkadang bukanlah tugasnya, namun ia tetap menjalankannya. Ya, mereka lebih menyakitkan daripada posisiku sekarang. Lalu pantaskah aku melarikan diri setelah menerimanya?
Pernah seorang kakak tingkatku berkata "Bersyukurlah kamu dek, masih diberikan kekuatan untuk menjalankan amanah-amanah itu. Jelajahi saja semua wahana di kampus ini. Apa yang membedakanmu dengan mereka adalah kelebihanmu mengatur dirimu di waktu senggang ini". Alasan demi alasan mulai muncul dari perdebatanku dengannya. Melihat sisi sisi kebaikan yang terdapat dari pilihan ku ini. Egois mungkin adalah perkataan yang muncul dari orang yang melihatku sekarang. Tapi, mereka tak tahu kondisi ketika amanah itu datang kepadaku. Lebih terlalu egois jika aku membiarkan amanah ini tanpa tuan. Membiarkannya terlantar mengikuti tuan yang tak tahu keinginan amanah ini. Satu hal yang bisa kulakukan, berhenti mengeluh dan let's DO-IT (DOa, Ikhtiar, dan Tawakal).
Dan yang terakhir kata dia, jalanilah semua amanah ini dengan penuh kesenangan tanpa beban. Enjoy aja bro kalau kalian dapet tugas begitu banyak. Jalanilah sebagai ibadah kepada Tuhanmu. Karena Dia tak pernah salah memberikan ujian kepada hambaNya.
Ya... Itulah sedikit cerita yang tak sempat ku utarakan kemarin pagi di tengah hutan bersama mereka. Ketika amanah-amanah itu datang bertubi-tubi, terimalah dengan senyuman dan laksanakan dengan penuh tanggung jawab dan biarkan itu mengisi kekosongan hatimu. Karena amanah-amanah inilah yang akan mengisi dengan kekuasaan-kekuasaan Tuhan yang Maha Luas. Keluarlah dari pikiran pikiran duniawimu, berpikirlah jauh mendekati arti-arti dari Ayat Ayat Tuhan yang telah Tuhan turunkan sebagai panduan hidup kita. Berfikirlah keluar dari kotak yang selama ini mengekangmu dalam kegundahan. Karena sebenarnya berfikir out of the box adalah alur untuk mengenal siapa Tuhan itu?
"Biarkan dirimu jatuh. Dalam. Terlalu menghilang. Dari dasar jurang itulah kau akan tahu betapa indahnya permukaaan yang penuh dengan keindahan tanpa kita harus meninggalkannya melainkan menjaganya"



Komentar
Posting Komentar