Nol Derajat
"Jangan pernah sekalipun dirimu tertidur sebelum kesuksesan itu menjemputmu. Dan lihatlah sekelilingmu, seberapa besar dia membutuhkan tanganmu."
Siang yang cerah, secerah harapan seorang anak kecil yang ingin mengubah Indonesia. Secerah harapan seorang anak kecil yang menganggap Indonesia Masih Subuh. Bentangan biru atmosfer hasil pembiasan sinar UV berpadu indah dengan awan awan yang bergerak dinamis. Bagiku tak ada hal yang terindah selain menengadah, menembus ribuan lapis langit dan galaksi. Ntah apa yang sebenarnya yang aku doakan siang ini ...
Satu hari yang lalu adalah ujung dari semua perjalananku mengunjungi beberapa sekolah di tanah kelahiranku ini. Delapan sekolah dari tiga kota. Haha super super keereeeen... *speechles lah.* Lepas dari jabatanku yang hanya pelaksana tugas Ketua Sosialisasi (Plt.) tapi sungguh inilah sebuah yang namanya tanggung jawab. Berbeda dengan dua tanggung jawabku di dua acara sebelumnya. Satu yang hanya memberikan kesadaran cinta lingkungan kepada adek adek TK dan SD serta Ibu-ibu, satu lagi memberikan hiburan terbaik kepada 500 orang yang tak pernah kukenal sebelumnya. Dan satu yang terakhir ini... Sebuah tanggung jawab atas tri dharma perguruan tinggi untuk mengabdi kepada masyarakat negeri ini. Dan tugasku seminggu kemarin adalah memberikan ribuan bahkan jutaan motivasi kepada adek-adekku yang ingin sekali masuk ke perguruan tinggi.
Tema awalnya adalah Surat Cinta Untuk Indonesia. Terlalu keromantisan banget sih... wwkkwk.. Bukan itu yang kutanamkan di hati. Tapi "0 derajat" yang selalu ada di hatiku. "0 derajat" lah yang menghiburku ketika kelelahan menggorogoti semangat. "0 derajat" lah yang setia menemani ketika harus berpindah dari satu kota ke kota lain. Tanpa "0 derajat" ntah apa yang terjadi.
Perjalanan itu dimulai dari SMA N 3 Pekalongan, aku sih nyebutnya "ganesha kecil". Yah sekolah ini lambangnya juga Ganesha, sama seperti kampus ku. Ntah tiba-tiba bibir ini begitu kuat bergetar ratusan detik. Bergetar untuk menyamakan frekuensi dengan pemikiran adek adek ini. Semua hal tentang kampus Ganesha kugetarkan di hati mereka. Karena aku yakin ada satu lagi penerus Mbak Tina dari sekolah ini.
Hari selanjutnya giliran almamater yang mengantarkanku ke kampus ini, SMA KARTINI. Satu tantanganku di tempat ini. Membangkitkan jiwa jiwa kecil yang punya potensi tapi ntah ragu untuk memilih kampusku. Mereka selalu bertanya, "dulu aja 2, sekarang berapa kak". Dan kata kata mutiara dari teman-teman angkatan ku lah yang aku butuhkan. Mengubah kata PESIMIS menjadi sebuah OPTIMIS Bersyarat. Yaps optimis tapi harus bersyarat. Seperti kata pepatah, "masa depan suatu kaum tak akan berubah kecuali kaum itu mengubahnya sendiri."
Hari ketiga. Hari yang panjang dan juga menyenangkan. Panjang karena dari pagi kami ada di ujung utara kota Pekalongan dengan tantangan air bah yang menghadang dan siangnya kami harus sudah berada di ujung kota lain, di tepi pegunungan, Kajen. Hastag dua sma dua kota satu hari jadi penyemangat tersendiri. Pagi hari, kami bertemu dengan sekolah yang punya budaya yang 180 derajat berbeda dengan 2 sekolah sebelumnya. Males, Brandalan, dan tak ada kemauan untuk sekolah. Budaya yang sangat ekstrem di kota santri ini. Alhamdulillah, semoga mindset berubah dengan apayang terlihat dari mata ini, keantusiasan mereka menyambut kami. Dan siang hari, budaya dan kondisi pegunungan yang melekat di kota ini tergambar jelas di pertanyaan pertanyaan mereka. BIAYA dan TAKUT. Dua kata yang selalu terucap dari mulut mereka. Sungguh perjuangan yang luar biasa untuk menghapus dua kata itu. Tapi semua kelelahan ini membuatku sadar, akan pentingnya sebuah sosok penyemangat di samping kita. Sosok yang tahu siapa kita sebenarnya. Sosok yang mau dan rela mendengarkan obrolan kita. Sosok yang terkadang sudah tau kita mau ngomong apa. Dan itu yang dibutuhkan calon calon pemimpin negeri ini.
Hari keempat tensi meningkat. Disini, di kota ketiga yang kita kunjungi, masalah lain menerkam. BLACKLIST jadi trending topic hari itu. Aku teringat kata kata dari Pak Rektor yang tahun ini telah melepaskan jabatannya, "Kampus ini tidak pernah dan tidak akan menyusahkan atau menolak adek-adek SMA yang ingin bergabung menjadi bagian di kampus ini. Semua pintu kampus ini terbuka. Dan istilah blacklist tak pernah ada di kampus ini."
Hari kelima dan hari keenam jadi hari yang paling melelahkan. Sisa tenaga yang telah terkuras di hari hari sebelumnya, dan personil yang semakin berkurang jadi tantangan selanjutnya. Tapi satu hal dari dua hari itu, "Tak ada yang namanya sekolah favorit, dan tak ada pula yang namanya sekolah unggulan. Siapa yang punya potensi, kampus ini siap menerima."
Ya, Enam hari, Delapan sekolah, Tiga kota. Perjalanan yang sangat panjang untuk memberikan motivasi kepada calon calon mutiara bangsa ini. Kami tahu kami hanya mahasiswa sarjana yang masih belajar, tapi kami juga belajar dari bagaimana dosen kami menyemangati kami, bagaimana mereka mengatakan kalau generasi emas Indonesia ada di tangan kalian. Dan inilah yang kami berikan kepada adek-adek kami. Harapan anak kecil yang masih menganggap Indonesia Masih Subuh.
Satu cerita lagi dariku. Aku merasakan sebuah harapan yang sangat tinggi. Harapan yang masih berupa lilin kecil yang siap membakar api unggun perkemahan dari hati mereka. Harapan ingin mengubah wajah Indonesia. Tapi, mereka takut. Takut ketika negeri ini tak percaya lagi pada mereka. Mereka takut hanya menjadi lulusan yang tak berguna. Satu hal, kekayaan Indonesia bukanlah ada di sumber daya alamnya yang melimpah. Tapi, kekayaan terbesar yang dimiliki Indonesia ini adalah semangat para pemudanya yang siap turun tangan untuk menciptakan inovasi bagi negeri ini.
Secercah harapan dari anak-anak Kota Batik untuk Indonesia.
Pekalongan, 5-10 Januari 2015
Presentation Tour of "AKU MASUK ITB 2015" #SelarasSatuUntukPerguruanTinggi #SuratCintaUntukIndonesia



Komentar
Posting Komentar