Retorika Parahyangan

Pernahkah kalian merasakan kesepian di tengah ramainya suasana malam, kedinginan di antara bara api unggun yang menyala di perkemahan, pernahkah? Kalau kalian pernah, maka satu hal yang bisa aku katakan, "Tenanglah, dan ingatlah selalu... ada Tuhan yang selalu bersamamu"

Lantai Atas Pasar Baru - koleksi pribadi

Hai readers, taukah kalian apa yang telah terjadi di kotaku sekarang? Kalender kamar udah berganti halaman. Terlihat angka 11 dan 2014 terpampang besar memperingatkan siapapun orang yang melihatnya. Angka 11 berarti bulan ke-11 revolusi bumi mengelilingi matahari. Dan percaya atau tidak, terkadang kau tidak akan menemukan sang surya tersenyum di siang dan pagi hari. Namun, itu hanya terjadi di kotaku ini. Bumi para Yang berkuasa, bumi Parahyangan. Bumi yang cukup tinggi untuk sebuah kota metropolitan. Ya, bumi Parahyangan.

Parahyangan, mungkin tak semua mengenal istilah ini. Tapi kalau Bandung, semua pasti sudah mengenal. Semua orang desa juga pasti mengenalnya. Yah, seperti artikel yang aku buat sebelumnya tentang kota dan kehidupan di salah satu kampus terbaik di kota ini. Bandung, kota metropolitan yang menjadi impian para pelajar untuk berdiam dan menimba ilmu di kota ini. Lebih dari 10 Universitas bercokol dan mengembangkan ilmu dan pengetahuan tentang alam di kota ini. Dan salah satunya adalah yang terbaik di Nusantara.

Bandung di waktu subuh terlihat seperti pukul 1 malam. Langit masih gelap dan kabut menutupi gunung-gunung yang menghias di seluruh penjuru. Jika kau berada di tengah-tengah kota ini, kau seperti berada di alam roh yang ada di dunia Avatar. *Yah maklumlah masih koleksi episode avatar korra. Tak cuma kabut yang menjadi hantu menakutkan di sini. Suhu dibawah 20 derajat celcius juga bisa membunuh orang yang awam dengan kondisi pegunungan. Pagi 20 derajat, siang bisa mencapai 42 derajat celcius. Terbayang lah rentang suhu yang cukup jauh dan benar benar terasa perbedaanya. Tak jarang, apotek-apotek dan klinik penuh dengan orang yang mengeluh sakit flu.

Yah itulah kondisinya. Mungkin sangat jauh berbeda dengan alam di Pontianak sana, kota khatulistiwa yang tak pernah luput dari sengatan Matahari. Tapi, apakah hanya diriku yang merasakan kedinginan yang mencekam ini, ataukah ada orang lain yang ikut merasakannya. Terkadang aku terbangun di pagi hari dan seakan melihat sesosok bayangan di dekat pintu. Aku tahu itu halusinasi, segera aku cuci mukaku dan mencoba mencari teman di tengah kedinginan ini.


Teman ya, teman. Jika kalian tahu, tak ada yang tahu mungkin, jika kedinginan ini membuat dunia ini merasa begitu gelap bak langit subuh itu. Terkadang tangan ini meraba raba mencari sosok lain yang pernah ada di sampingnya. Hanya wallpaper android ini yang menjadi obat terakhir dari kesepian ini. Mungkinkah salah jika aku masih menunggu ???

Lupakanlah sejenak pertanyaan itu. Aku sekarang ada di Bandung. Kota yang penuh dengan keramah tamahan, kota yang penuh dengan keceriaan, kota yang warganya tak senggan berbagi kebahagiaan dengan orang lain bahkan yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Aku sekarang bukan lagi berada di tanah kelahiran, tanah yang pernah membuatku terjungkal. Aku beruntung sekarang ada di kota ini. Dan ya, di bumi ini aku merasa begitu dekat dengan temanku, teman satu-satunya yang mengerti siapa dan bagaimana kondisiku. Teman yang selalu ada disampingku. Namun, Dia bukanlah sekedar teman. Dialah Tuhanku, yang setia menemaniku kapanpun aku membutuhkannya.


Bagi kalian yang pernah merasakan kesepian dan kedinginan yang mencekam dalam diri kalian. Carilah Tuhan. Niscaya kalian akan merasa nyaman dan tenang di tengah kekacauan alam yang semakin menyeramkan ini. Lupakanlah masa lalu, lupakanlah sosok bayangan terus menghantui pikiranmu, tapi yakinkanlah dirimu bahwa ada masa depan yang lebih dan lebih indah dari apa yang kau pikirkan selama ini. Dan aku, salah satu mahasiswa teknik di salah satu Institut Terbaik di abad ini, yakin bahwa kesepian dan kedinginan yang mencekam ini adalah kondisi yang harus dimanfaatkan untuk membuat diriku lebih baik. Manfaatkanlah kesepian ini untuk mencari teman sebanyak mungkin, dan manfaatkanlah kesepiaan ini untuk belajar dan fokus mencari jejak jejak mimpi. Jadilah bara api yang terus menerus menghangatkan bumi Parahyangan ini serta bersukurlah karena kedinginan Parahyangan ini telah membuatku lebih dekat dengan Tuhan yang menemaniku setiap hari.

"Jadilah bara api yang akan menarik orang disekitarmu dan menghangatkan mereka ditengah kedinginan dan kegelapan yang mencekam ini"
-falithie

Komentar

Postingan Populer