Syawalan itu hanya Lopis Raksasa?

Banyak yang mengartikan sejarah itu hanya puing-puing masa lampau yang tak berguna. Ada yang bilang ketika kita mengingat masa lalu, kita hanya sanggup melihatnya dalam memori dan mulai menangisi semua yang telah kita lakukan. Yah memang kita tidak bisa kembali ke masa lampau untuk mengubah sejarah itu. Tapi ketahuilah, tanpa masa lalu kita tak akan ada di sini sekarang. “Jangan pernah lupakan masa lalu. Karena masa lalu, kita hidup” ujar Optimus Prime dalam closing scene di film Transformer Revenge of Fallen.

Setuju sekali dengan Optimus. Kita memang harus menyiapkan mental ketika kita kembali menatap masa lalu kita, apalagi dengan memori buruk yang pernah kita alami. Ambillah sisi positifnya, dengan kita melihat kembali masa masa itu kita bisa sadar bahwa semua itu adalah kesalahan fatal yang seharusnya tak terjadi pada masa itu. Tapi apadaya, nasi telah menjadi bubur. Sekarang yang kita bisa lakukan hanya mencoba untuk tidak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. 

“Selalu tatap masa depan, tapi sesekali tengok ke belakang untuk mengkoreksi apa yang akan kita lakukan di masa depan”


Introduction yang terlalu memaksa. Yehe... Bicara tentang sejarah ada satu hal yang mungkin telah kita lupakan. Mumpung bertepatan dengan bulan Syawal (bulan setelah Ramadhan), sedikit mengulas tentang tradisi Syawalan yang ada di kota kelahiranku Pekalongan. Yah walaupun udah jamur 2 hari tak apalah. Maaf kegiatan kuliah di Bandung sudah mulai aktif dan terpaksa harus meninggalkan tradisi syawalan di kampung.

Kota Pekalongan mungkin hanya terkenal karena batiknya yang bagus-bagus dan sering menjadi buah tangan bagi para pemudik yang melewati kota yang dijuluki kota Batik ini. Tapi ada hal menarik ketika momen lebaran yang para pemudik tak tahu. Hari kedelapan atau acapkali disebut H+8 oleh reporter TV menjadi hari spesial bagi kota Pekalongan. Pasalnya pada hari itu diadakan acara adat (sebenarnya tradisi turun temurun, biar wow ajalah) yang diadakan di kelurahan Krapyak Kidul dan Krapyak Lor. Namanya Syawalan.

Anak-anak muda sekarang hanya mengetahui acara Syawalan isinya cuma Lopis Raksasa dan Balon Mercon yang mengisi langit kota pada hari itu. Memang Lopis Raksasa yang dibuat dari beras ketan ini digunakan sebagai magnet tersendiri untuk menarik para wisatawan lokal untuk meramaikan acara ini. Singkat cerita Lopis ini dipamerkan di kampung “Sembawan” di daerah Krapyak pada malam harinya dan keesokannya akan dipotong atau diiris oleh Walikota Pekalongan dan langsung dibagi-bagikan kepada pengunjung. Namun, itu bukanlah inti dari syawalan... Ada yang pernah tahu sejarah syawalan?

Sejarah ini tak sengaja aku dengar dari percakapan Abiy dengan tamu dari Wiradesa. Entah kenapa tamu abiy ini tiba-tiba menanyakan awal mula syawalan itu terjadi. Karena aku sejak tadi disitu terpaksa telingaku ikut mendengar abiy bercerita. Jujur saja sebelumnya aku juga tak tahu kenapa ada syawalan. Begini nih ceritanya ...

“... Dulu, warga Pekalongan khususnya daerah Krapyak ini merupakan daerah pendatang yang berasal dari Magelang (keluarga ningrat). Mereka terusir dari kotanya karena Agresi Belanda menghancurkan kota mereka. Singkat cerita mereka menetap di daerah ini dan mendirikan sebuah pemukiman yang sekarang bernama Krapyak. Mayoritas warga Krapyak adalah Muslim sehingga pada saat lebaran tiba mereka juga menyelenggarakan silaturahmi ke saudara mereka."

... Tetapi anehnya mereka melaksanakan silaturahmi tersebut tidak pada H+1 lebaran atau hari setelah lebaran. Aku pikir mungkin karena saudaranya mereka dari Magelang jauh dan tidak bisa segera bersilaturahmi. Ternyata dugaanku meleset. Mereka melaksanakan ibadah Shoum terlebih dulu selama 6 hari. Dalam Hadits dikatakan barangsiapa yang berpuasa selama 30 hari selama bulan Ramadhan ditambah 6 hari setelah bulan itu (bulan syawal) maka baginya seperti berpuasa selama setahun. Karena tingkat religius masyarakat di daerah ini cukup tinggi mereka melaksanakan apa kata hadits tersebut. Sehingga seluruh masyarakat di kawasan ini masih berpuasa setelah hari lebaran tiba. Jadi bisa dibayangkan, ketika kita silaturahmi pada hari itu kita tdak diberi makanan ataupun minuman, kasihan kasihan kasihan"

... Alhasil, masyarakat diluar Krapyak yang mengetahui kebiasaan ini memutuskan bersilaturahmi pada H+8 atau setelah puasa syawal tersebut selesai. Masyarakat yang tak sabar untuk bertemu keluarganya di krapyak berbondong-bondong di hari itu juga. Bayangin betapa ramainya hari itu. Nah bisa dikatakan haru itu adalah Lebaran kedua atau Pestanya Lebaran itu pada hari kedelepan ini. Dan terkenalag dengan nama Syawalan. Dulu belum ada lopis raksasa. Yang menjadi inti dari acara syawalan pada zaman dulu (semoga sampe sekarang) yaitu acara silaturahmi, meminta maaf kepada sanak saudara yang ada di Krapyak ini. Semua pintu maaf terbuka bagi siapapun yang datang dan meminta maaf pada hari itu. Semua orang mengaku salah dan berbesar hati memaafkan kesalahan-kesalahan mereka. Ucapan Minal Aidin Wal Faizin, Sugeng Riyadi baru rame terdengar pada hari itu. Ramelah pokoknya.”

... Nah untuk menyambut kedatangan tamu tersebut biasanya masyarakat krapyak menyuguhkan berbagai hidangan salah satunya Lopis. Kenapa? Soalnya, enak dibuat dan enak dimakan (*ngawur nih) Tapi memang enak kog, beneran. Rugi kalo belum nyoba. Hehe”

Dongengan abiy cukup panjang dan sedikit yang bisa kusimpan dalam otak. Apalagi ceritanya pake basa krama, hazz... Tapi semuanya pahamkan yang aku tulis diatas? 

Hiruk pikuk Lopis Raksasa memang telah melunturkan sejarah ini. Orang berbondong-bondong bukan untuk bersilaturahmi, tapi terkadang hanya untuk melihat keelokan makanan khas syawalan itu. Hanya sedikit yang melapisi niatnya dengan berkunjung ke sanak saudaranya di Krapyak. Tak hanya sejarah yang telah luntur, tradisi puasa syawal pun sekarang mulai ditinggalkan warganya. Mereka sibuk meraup untung di tengah bingar bingar Lopis. Memajang Lopis ditengah Jalan Jlamprang yang merupakan akses menuju Krapyak sudah menjadi tuntutan ketika Lebaran tiba. Bahkan ada yang setelah Sholat Ied buru-buru membuka lapak dagangnya. Tradisi Silaturahmi dan Puasa Syawal sudah menjadi hal minoritas di daerah ini. Ekonomi lagi lagi menjadi alasan nomer satu.

Bahkan akhir-akhir ini, Syawalan dipenuhi dengan orkes dangdut yang dipamerkan diujung-ujung jalan. Ya inilah satu lagi faktor magnet para wisatawan lokal datang kesini. Jadi jangan harap motor kalian bisa melaju dikawasan ini. Bagai Jalur Alternative Pantura. Kegiatan orkes ini semakin melunturkan tradisi syawalan sebenarnya. Namun secara pribadi, saya mengapresiasi warga-warga terutama orang tua atau sesepuh desa yang dengan sabar membimbing kami anak-anak muda untuk kembali membangkitkan tradisi syawalan sebenarnya.

Inilah pentingnya sejarah, saat kita tak mengenalnya kita jadi salah mengartikan sebuah tradisi. Mempelajari sejarah apasih susahnya. Bagiku cukup mendengar cerita dari nenek dan kakek cukup menjadi referensi tersendiri ketika sedang benci dengan buku-buku. Yaps, sekali lagi Jangan Lupakan Masa Lalu, Karena masa lalu, kita hidup. Hidup dengan aturan yang benar dan bijak menghadapi segala macam perubahan zaman.

Syawalan itu hanya lopis raksasa? Bagiku syawalan bukan sekadar itu, tapi sarana mendekatkan diri pada Allah SWT dan merekatkan kembali tali silaturahmi yg sempat renggang karena jarak dan waktu yg menjadi rntangan. Syawalan yoook.

Komentar

Postingan Populer