Urban Farming Solusi Pertanian Kota

Kepadatan merupakan permasalahan utama di setiap kota-kota besar, tak terkecuali di kota tempatku mengais ilmu, kota Bandung. Sebelum era modern dan globalisasi, Bandung terkenal dengan kota yang sangat indah dan bersih. Di setiap sudut kota terdapat bunga-bunga dan pekarangan warga. Hal inilah yang membuat Bandung dijuluki sebagai kota Kembang karena keindahannya itu. Seiring dengan arus globalisasi dan urbanisasi, banyak orang dan barang yang tiap tahun mengisi ruang-ruang kosong di kota ini. Hingga muncul ledekan dari orang-orang Bandung sendiri, “Bangun tidur, keluar rumah yang dilihat cuma tembok, gimana tidak stress”. Yap, jarak antar rumah di Bandung sungguh sangat sempit dan hanya menyisakan sedikit ruang jalan untuk transportasi. Tak seperti dulu, yang disetiap pekarangan terlihat lahan hijau yang menyejukkan mata.

Karena itulah, muncul sebuah ide yang diadopsi dari dunia barat yakni mengadakan teknik pertanian dalam kota atau urban farming di Kota Bandung. Selain bertujuan untuk memperindah sebuah rumah dan menghilangkan stress, urban farming juga digunakan sebagai langkah dini mengantisipasi harga sayuran di pasar yang sewaktu-waktu melambung tinggi. Urban farming sendiri kini mulai banyak dilakukan oleh warga Bandung. Bandung pun kini mulai merenovasi diri mengembalikan julukan kota kembang yang pernah menghilang akibat menipisnya ruang hijau di kota ini.


Sebetulnya apa itu Urban Farming? Secara umum, urban farming adalah sebuah teknik pertanian dalam kota yang memanfaatkan ruang ruang sempit di setiap sudut pekarangan yang bertujuan menghasilkan tanaman yang berkualitas dan memiliki nilai ekonomis. Ada banyak teknik dalam urban farming ini, mulai dari horizontal garden yang memanfaatkan lahan kosong secara horizontal, lalu ada juga yang memakai teknik vertical garden yang memanfaatkan lahan atau tembok untuk digunakan sebagai lahan tanam yang menggunakan teknologi tertentu pula, dan yang paling terbaru adalah teknik hidroponik (dengan media tanam air) dan aeroponik (tanpa media tanam hanya digantungkan saja). Ketiga teknik terakhir merupakan sedikit solusi untuk mengatasi minimnya lahan di perkotaan yang tidak memungkinkan terjadinya pertanian secara horizontal.

Urban farming juga tidak terbatas dengan jenis-jenis tanaman sayuran dan buah-buahan, teknik ini juga mulai dikembangkan pada tanaman-tanaman hias. Seperti anggrek dan tanaman hias lainnya. Ini semua tak lepas dari salah satu tujuan teknik ini, yang juga bertujuan memperindah tata ruang di perkotaan.

Pemerintah pun ikut serta dalam mengembangkan popularitas teknik ini. Beberapa waktu yang lalu di kelurahan Dago tepatnya di selasar bawah Asrama Sangkurian ITB, pemerintah melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung mengadakan sosialisasi tentang urban farming dan sumbangan dari pemerintah berupa bibit dan media tanam yang akan di salurkan ke beberapa kelurahan di seluruh kota Bandung. Ada kurang lebih 10ribu bibit tanaman berupa biji, tunas, ataupun tanaman remaja yang akan disalurkan.

Pada kesempatan itu pula disosialisasikan cara-cara merawat bibit dari mulai penyemaian hingga pemanenan. Selain itu, untuk menyikapi minimnya lahan di kota Bandung ini, pemerintah juga bekerjasama dengan relawan dari Mahasiswa Biologi ITB dan Komunitas Berkebun Bandung. Nantinya dari kedua pihak ini akan menyosialisasikan teknik-teknik urban farming seperti vertical garden dan teknik terasering kepada masyarakat. Masyarakat terlihat sangat bersemangat dengan hadirnya bantuan dan relawan-relawan ini. Partisipasi aktif juga terlihat dari banyaknya pertanyaan dan sharing pengalaman dari para warga kelurahan Dago ini.

Yap, sempitnya lahan di kota Bandung ini tak mengurangi ide-ide dari para mahasiswa dan warga untuk berkebun di daerahnya. Terkadang ide sepele yang dihiraukan oleh beberapa kalangan sangatlah bermanfaat bagi siapapun. Disinilah letak saling berbagi pengalaman dan menghargai seberapa kecil ide tersebut. Masalah perkotaan seperti ini tak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja, perlu kontribusi dan partisipasi aktif dari semua kalangan agar Bandung bisa hijau kembali. Kembali memegang titel kota Kembang yang dulu pernah hilang karena tumbuhnya gedung2 pencakar langit yang merusak permadani hijau di kota ini. Tak hanya kota Kembang, Bandung juga bisa kembali dijuluki Paris Van Java kiranya para warganya kreatif dalam menata ruang di kota ini. Semoga slogan Bandung Juara benar-benar menjadi motivasi bagi warganya. Bandung JUARA !!!

Komentar

Postingan Populer