Persepsi Kemerdekaan

Aksi Mahasiswa Metalurgi ITB 2014 mendukung pembangunan Pabrik Stainless Steel menjelang
Peringatan Kemerdekaan RI ke 70 
Terkadang ketika sepi aku rindu, rindu akan sebuah kemerdekaan. Terkadang ketika sepi pula aku berharap, berharap akan udara yang segar nan sejuk. Tapi itu semua hanya mimpi, mimpi burung kakaktua yang hanya bisa berjalan kesana kemari di sangkarnya. Ia tak mampu keluar dari sekat sekat itu. Sungguh, penjajahan nyatanya masih ada. Mereka mengaku sebagai sistem, atau lebih tepatnya merengkuh dan menyusup ke dalam sistem. Memandang kebebasan sebagai musuh abadi. Kebebasan yang mana? Kemerdekaan yang mana?

Masih dalam suasana #Merdeka. Indonesia memang telah lama mengibarkan merah putih di tanahnya sendiri. 70 tahun lamanya, kokoh tak mampu untuk direbut lagi dari para Pejuang Kemerdekaan. Namun, aku masih mencari esensi dari bendera itu sendiri. Kejauhan memang terlihat bendera itu berdiri sendiri. Tapi aku melihat ada rayap rayap kecil yang mulai sedikit mengikis tiang setinggi itu. Sungguh masih banyak, orang yang ingin meruntuhkan negara ini. Terkadang seperti setan gaib, terkadang pula berwujud manusia.

Kemerdekaan kata mereka orang perkotaan adalah hidup bebas dari kemacetan, dapat berlibur saat weekend, dan dapat menyelesaikan tugas kantor yang berjibun menumpuk di meja. Lain halnya bagi mereka yang ada di pedesaan yang menganggap kemerdekaan hanya simbolisasi dan administrasi. Merdeka bagi mereka mungkin hanya merasakan sesuap nasi setiap harinya atau bisa melihat anak anaknya bersekolah tinggi dan kembali membantunya di sawah, atau mungkin sanggup punya rumah yang punya toilet saja bagi mereka itu MERDEKA. Beda pula persepsi mereka di tapal batas negeri ini. Mereka yang sehari hari hidup di tengah kegundahan dan ketidaknyamanan serta kesunyian hutan belantara. Mungkin merekalah yang paling merasakan arti kemerdekaan. Karena mereka tahu, merdeka bagi mereka hanya masalah hidup dan mati. Di depan pandangan mereka adalah tanah tetangga yang mungkin sewaktu terbakar dan menyerang. Tapi kemerdekaan telah menyelamatkan mereka setidaknya.

Lalu apa sebenarnya dari kemerdekaan itu. Persepsi tiga kelompok masyarakat jauh berbeda menyikapinya. Ada yang pernah bilang merdeka itu adalah hak setiap manusia. Merdeka itu pilihan bagi mereka yang menginginkannya. atau merdeka itu hanyalah paduan 7 huruf yang tak bermakna jika jiwa dan pikiran mereka masih terkekang dalam sebuah sistem. Biarkanlah sistem mengekang mereka, tubuh atau raga mereka, tapi bebaskanlah jiwa dan pikiran mereka. Biarkan mereka gila karena punya jiwa yang bebas. Sangkar besi mungkin memisahkannya dengan dunia, tapi tidak dengan pikirannya yang masih menaruh harapan akan sebuah kemerdekaan hakiki di tanah yang dipijaknya ini.

Tujuh puluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mewujudkan kemerdekaan sebenarnya. Jika ego dan idealisme sampah yang masih terus terpegang, maka kemerdekaan itu hanya misteri. Masih banyak permasalahan klasik di negeri makmur ini. Negeri ini kaya akan semua hal. Beribu ribu pulau membentang dari Sabang hingga Merauke. Beratus-ratus bahasa menjadi alat komunikasi di masing-masing pulau itu. Puluhan juta orang berbeda suku, agama, dan pikiran mendiami negeri ini. Dan ratusan macam mineral berharga terkubur nyaman dalam tanah ini. Namun apa? Kita belum tahu arti dari semua ini. Bukankah Tuhan tak pernah menciptakan sesuatu tanpa ada manfaatnya.

Tujuh puluh tahun kemerdekaan ini mungkin bisa jadi pengingat akan anugerah Tuhan yang ada di negeri ini. Dengan terus menerus semangat, Indonesia pasti bisa kembali dan selamanya Merdeka. Tuhan benci dengan mereka yang tak punya harapan. Maka berharaplah kepada Tuhan, berusahalah semaksimal mungkin, dan lepaskanlah semuanya kepada Tuhan. Karena semua yang berasal dariNya, akan kembali lagi kepadaNya.

Mungkin kita masih merasakan kemerdekaan semu. Tapi kami, pemuda Indonesia punya mimpi menjadi generasi emas di masa yang akan datang. Kami masih akan terus membaca dan membaca dari mereka yang telah merdeka. Yuk kita bergerak bersama. Sendiri memang bisa, tapi bersama pasti LUAR BIASA. MERDEKA!!!

Komentar

Postingan Populer