Penguasa, Kapan Kalian Akan Percaya pada Kami?

Kemenangan URO dalam kontes Robot Indonesia. Indonesia BISA.
Cerita Raja Jalut ketika melawan Raja Thalut, Raja Kerajaan Israel di masa lampau menarik rasanya untuk dijadikan pelajaran bangsa ini. Raksasa Jalut dengan keangkuhannya menantang setiap Bani Israel pimpinan Thalut. Ia berkata "tak ada yang mampu mengalahkan ku, kerahkan seribu bala tentaramu, pasti ku akan menang". Seribu bala tentara Israel tatkala luluh lantah oleh kedigdayaan Thalut. Sisalah Jalut, Sang Raja menantang raksasa Thalut ini. Tetapi, tetaplah Jalut tak terkalahkan dan menambah sombong dirinya di atas Bumi ini. Tiba-tiba datanglah seorang anak kecil menantang raksasa Thalut. Thalut merasa terhina, ketika Bani Israel mengirimkan anak kecil yang bernama Daud untuk melawannya. Kesombongan dirinya tak berkurang sedikitpun ketika melawan Daud. Namun, Daud dengan sabar menembaki Raksasa dengan ketapel batunya. Singkat cerita, Thalut pun tumbang hanya karena batu jalanan yang ditembakkan ke matanya oleh Daud. Ya, selamanya kesombongan akan tumbang dengan orang yang bersabar.

Seperti itulah citra Indonesia bak Raja Thalut. Negara yang merasa begitu kaya dengan alam nya. Hanya dengan tongkat kayu dan batu jadilah tanaman untuk kita makan. Negara ini merasa tak butuh kerja keras untuk menjalani kehidupannya. Segala sesuatu pasti akan datang dan tumbuh dari halaman rumahnya. Tak perlu kerja keras untuk mencari sesuap nasi. Ya mungkin itulah kebanyakan bangsa ini berpikir.

Berbeda dengan apa yang terjadi di Jepang sana. Dengan bentang alam yang mirip dan hampir sama dengan Indonesia, mereka begitu rendah hati mengatakan bangsanya perlu bekerja keras untuk mencari makan. Tak ada dalam budaya mereka untuk menunggu semua kebahagiaan itu datang dengan sendirinya. Sejak kecil, anak anak Jepang sudah dididik dengan mandiri dan penuh kedisiplinan. Mereka dibiarkan berangkat sendiri ke sekolah dengan berjalan kaki. Para orang tua hanya membantu mereka menyeberang jalan. Usia 17 tahun, mereka tak lagi mendapatkan biaya hidup dari orang tuanya. Mereka harus mencari cara untuk menghasilkan yen demi yen tiap harinya. Berjualan makanan kecil, kerajinan tangan, bekerja part-time setelah perkuliahan, sudah menjadi hal yang biasa bagi remaja disana. Hal inilah yang memupuk keprihatinan remaja remaja Jepang tentang begitu susahnya mencari kebahagiaan dalam hidup. Mereka terus berjuang dan berjuang untuk mencari kebahagiaan itu. Bahkan ketika mereka berlibur keluar dari negaranya, mereka membawa sebuah misi untuk mencari inspirasi di luar sana tentang apa yang bisa ia lakukan ketika ia pulang ke Jepang, apa yang bisa ia perbuat bagi bangsanya. Pemerintah pun sangat mendukung perjuangan anak anak muda Jepang ini. Dukungan dari pemerintah mulai dari beasiswa pendidikan, dana riset, dan sebagainya membuat kemajuan Jepang nyata sudah. Kerja keras adalah kunci dari sebuah kemajuan suatu negara.

Hal yang tak pernah ditemukan di negeri ini. Mereka yang menginginkan perubahan malah dibenci. Lihat saja PT DI, INKA, mobil listrik, BATAN, PERTAMINA dan semuanya yang ikhlas membangun negeri ini dicaci maki, dikerdili, dan dianggap menyalahi hukum alam. Ya, mereka pikir hukum alam Indonesia hanyalah konsumer sejati. Pemikiran yang sangat bodoh. Benar saja seorang menteri berani mencaci maki pemimpin nomor satu di negeri ini. Mereka yang punya pemikiran tinggi merasa marah dengan semua kebijakan yang ada disini. Birokrasi adalah penghalang bagi mereka untuk melanjutkan inspirasi-inspirasi. Saya pun sepakat dengan pemikiran salah seorang dosen profesor kampus terbaik di negeri ini. Ia berusaha untuk mendoktrinasi mahasiswanya untuk keluar dari negeri ini. Dalam setiap kuliahnya ia selalu menyampaikan "kalian adalah insan terbaik negeri ini, keluarlah dari negeri ini, berkembanglah disana, masuklah ke sendi sendi kehidupan negeri lain, dan ajak terus adek adekmu nanti untuk ikut serta dalam misi ini." Lanjutnya ia mengatakan, "dan bawa pulanglah inspirasi kalian nanti dengan kepercayaan dan modal yang tinggi". Alasannya hanya satu, entah sampai kapan negeri ini membenci akademisi. 
RDE generasi terbaru yang akan dibangun oleh tangan-tangan mungil anak-anak Indonesia jadi saksi kebencian mereka terhadap kami. Ketidakpercayaan mereka akan keahlian kami atau adanya interupsi dari negara negara diktator yang mengokupasi negeri yang merasa kaya ini. Reaktor yang akan menjadi kunci kemajuan Indonesia ini malah dipersulit kehadirannya. Mereka terlalu khawatir dengan resiko yang ada. Lalu sampai kapan negeri ini diliputi awan gelap ketakutan. Takut untuk sebuah perubahan? BATAN, Teknisi dari ITB dan akademisi lain telah siap dengan teknologi RDE ini. Apalagi dengan hadirnya teman dari Rusia yang akan membantu menjalankan misi mulia ini.

Akankah peristiwa naas C-130 akan berulang lagi akibat minimnya perkembangan teknologi di negeri ini? Kita memang tak punya cukup anggaran untuk membiayai semua inspirasi teman-teman akademisi. Tapi masih ada cara lain jika negeri ini percaya pada lulusan lulusan terbaik perguruan tingginya sendiri.

Kami pun kembali bertanya pada kalian para penguasa. Kapan kalian akan percaya pada kami, para pemuda? Kami hanya bisa bersabar dan terus berusaha membangun mimpi kami.

Komentar

Postingan Populer