Cerita Sebutir Debu


Sebutir debu tak kasat mata yang terbang gembira membawa kabar cerita dari sang angin. Ia berenang di lautan udara kota, sesekali hinggap di kaca kaca mobil mewah, kemudian terbang lagi tersapu pembersih kaca. Waktu itu kebetulan, sepedaku melaju lumayan cepat menuruni jalanan juanda. Debu ini pun menyapaku dengan cara yang sedikit kurang ajar. Menabrakkan dirinya ke mataku. Ia mengabarkan sedikit cerita yang dibawa angin utara... Cerita tentang sebuah perjuangan sebuah pangeran kecil yang melalang buana di tengah rimba Bulan Juni.

Bagai sebuah sepasang sepatu, yang tak pernah terpisahkan, kemanapun keduanya akan saling mengikuti. Terkadang satu diantaranya merasa takut kepanasan, namun satu yang lain begitu bersemangat berlari lari ke medan rimba ini. Begitulah kisah seorang pangeran kecil ini yang bersemangat berlari memperjuangkan martabat nya sebagai pangeran. Amanah nya terus menerus bertambah seiring berjalannya waktu. Awalnya ia merasa bingung... Tapi apa daya dengan semua resiko yang telah ia ambil. Ia menjalani semua amanah itu dengan senang hati dan penuh kehati-hatian.

Amanah pertamanya mengharuskan dia memimpin satu regu menuju salah satu puncak di sisi selatan Jawa. Ia hanya berbekal pengalaman diksar pecinta rimba semasa ia bersekolah. Belum pernah selama diksar itu, ia mencapai titik tertinggi setiap puncak. Selalu ada rintangan yang menghentikannya di camp tengah jalan. Namun, entah bara api apa yang membakar kakinya. Hanya dengan persiapan yang sangat sempit, membentuk tim dan mempersiapkan materi, keenam manusia yang ingin menjaga kehormatan Pancasila meyakinkan diri melewati satu per satu camp. Cukup 4 jam bagi ia dan temannya, melihat lembayun senja dan mentari terbenam lebih lama di sisi ufuknya. Tanah setinggi 3265 meter di selatan kota Surakarta telah mereka daki. Bagi dia, ini bukan hanya sekedar menaklukan keagungan gunung, bukan pula perjalanan wisata, tapi sebuah perjalanan spiritual dan refleksi diri mencari siapa sebenarnya Tuhan dan siapa yang sejak 17 tahun bernaung dalam raganya. Ya, gunung adalah tempat dimana semua karakter orang terlihat jelas, tempat dimana mereka tak mampu menyembunyikan sifat alamiah mereka. Ia pun bertanya-tanya, mungkin inilah cara kita untuk mencari seseorang yang tepat menemani perjalanan kesuksesan kita, dengan mengajaknya ke Puncak.

Lohdaya menjadi akhir dari cerita Lawu dan memisahkan 6 tim ini. Namun, bagi sang Pangeran... Amanahnya masih terlalu banyak untuk dikatakan berakhir. Ekspedisi Seven Summit memang telah usai, namun sederet kegiatan lain datang menemuinya...

Tim Sponsorship Ramadhan di kampusnya mengajak Pangeran untuk ikut terjun ke rimba lagi, Terbang ke kota tetangga, mengetuk pintu setiap perusahaan, berusaha meyakinkan program-program yang dibawanya. Hari-hari Pangeran bertambah panjang, menanti jawaban hubungan udara dari Manager yang ada di sisi lain transmitter yang dipegangnya berjam-jam. Dari sinilah ia melatih diri, apa itu komunikasi dan apa itu pelayanan terbaik. Semua dilakukan Pangeran demi kehormatannya di bawah pengawasan Penciptanya.

Jam tidur Pangeran pun mulai terkikis, ketika Asrama ikut pula mengajaknya menempa penghuni rimba dengan nilai-nilai yang ada di kekuasaan Belantara Kidang ini. Membagi diri dan waktu di dua tempat dan posisi yang berbeda jadi tantangan Pangeran. Fisiknya yang kecil membantunya lebih gesit untuk berpindah dari posisi nya dari Asrama ke Sponsorship. Namun, rimba terlalu menariknya di Asrama. Hanya sedikit waktu nya untuk menyapa teman tim sponsor. Sebulan penuh rimba mengajarinya cara menjadi teladan bagi penghuni rimba baru. Pangeran selalu siap dengan posisinya, kapanpun ia dan timnya stand by setiap hari mengamankan setiap penghuni rimba dan menolongnya ketika penghuni baru ini kelelahan. Siang dan malam, sang Pangeran tak pernah lelah memikirkan keamanan esok hari. Hingga di waktu malam, malam terakhir prosesi para peghuni baru di rimba ini. Ketika langit begitu cerah, dua bintang paling terang yang tiap malam menjadi hiasan di atas langit langit rimba. Hingga semuanya telah berakhir begitu cepat.

Tak semudah itu membagi waktu memang. Satu amanah hampir tertinggal dan terlupa. Di tengah sibuknya rimba, kurcaci kurcaci kecil memintaku untuk memimpin acara lapangan mereka. Kurcaci yang begitu imut dan menggemaskan ini berencana ingin menghibur rakyat rimba gajah dengan musik bambunya. Angklung. Lapangan sempat ricuh ketika Pangeran meninggalkannya. Syukurlah, ia mampu beradaptasi cepat dengan teman-temannya yang begitu setia mendampinginya, menggantikan posisinya ketika rimba lain lebih membutuhkannya. Ya, Malam itu kurcaci berhasil tampil dengan menggembirakan. Semua rimba gajah sumringah melihat keimutan mereka. Bagi Pangeran, pertama kalinya ia memimpin sebuah lapangan di luar kekuasaannya. Rintangannya hanyalah pengsuasanaan dengan lingkungan baru ini. Rimba gajah yang baru dikunjunginya sekali. Beruntunglah, pangeran punya tim terhebat di Rimba ini yang berusaha menerjemahkan kode kode morse yang ia kirim dari rimba lain. Angklung pun menghias malam Rimba Gajah.

Hari demi hari bak sebuah jam, jam pun tak khayal seperti menit, dan detikpun seakan lenyap tertelan kelelahan dan kegembiraan Pangeran. Amanah nya berakhir sudah. Sujud syukur ia lampiaskan setelah Maghrib berkumandang. "See you next time" begitulah kata yang terakhir terucap Pangeran melepas kepergian amanah-amanah ini.

Hari ini Pangeran itu ada disini. Di tempat kalian membaca cerita ini. Seorang pangeran kecil yang berusaha membuat kalian tetap tersenyum dan berceloteh dengan rimba lain di biosfer yang sungguh luas ini. Tak jarang, Pangeran bertemu dengan Putri dari rimba lain yang begitu cantik. Namun, Ia tak tahu harus bagaimana menyikapi perasaannya itu. Hanya doa yang bisa ia berikan kepada Putri yang ia temui di rimba kemarin malam.

Debu pun terbang menjauh dari mataku. Menyisakan seberkas perjalanan seorang pangeran yang ku idolakan. Waktu nya istirahat. Benar kata mentorku, "masalah istirahat mah pasti ada waktunya." Teruslah bekerja keras, jalankan amanah yang telah diberikan kepada kita dengan baik. Tuhan tak pernah salah memberikan amanah kepada makhluk-Nya. Tuhan tak pernah memberi amanah yang tak bisa dikerjakan makhluk-Nya. Karena Tuhan tahu, kita hanyalah manusia yang jauh dari kesempurnaan. Namun, Tuhan selalu berusaha mengajari kita untuk belajar dari kekurangan kita menuju kesempurnaan yang maya.

29 Juli 2015
@Asrama Kidang Pananjung

Komentar

Postingan Populer