Kemana Mahasiswa?

Rupiah turun drastis, cicak versus buaya kembali bertengkar, kondisi dalam negeri kacau balau, rapor merah 100 hari Jokowi telah menjadi bukti kinerja selama ini. Lalu, kemana para mahasiswa? Apa kata mereka dengan kejadian ini? Atau semua apatis dengan semua ini? Kemana kalian, mahasiswa???


Hangat sudah mungkin topik satu ini. Media sosial dan obrolan lintas mahasiswa selalu membahas hilangnya mahasiswa di tengah krisis yang melanda negeri. Para panelis gencar-gencarnya memojokkan mahasiswa, menanyakan kemana perginya mahasiswa di tengah kacaunya pemerintahan kali ini. Kemana mahasiswa? Pertanyaan konyol menurutku. Pertanyaan yang sedikit membuat geli perut kecil kami yang mengirit uang jajan di akhir bulan ini.


Mereka bertanya karena mereka tak melihat adanya kericuhan lagi, tak ada demonstrasi mahasiswa lagi, tak ada lempar batu antar polisi dan kami lagi, yah hal itu tak kami lakukan lagi. Dulu kami menyerang kebijakan melalui demonstrasi, mengobarkan emosi, membakar ban dan bertengkar dengan polisi. Sekarang??? Tidak.  Kami, mahasiswa telah berubah. Kami lebih bergerak di bawah tanah, menyusup ke pori-pori pemerintah melalui mediasi, dan menurutku inilah jalan yang terbaik untuk menuntaskan permasalahan negeri ini.

Lama tangan ini tak menyentuh papan keyboard setelah lama mencari pengalaman baru di dunia yang semakin absurd ini. Dunia kuliah selalu tak pernah kondusif dan
berjalan dengan rencana terbaikmu, deadliners tugas, menumpuknya jadwal kegiatan selama sehari udah jadi santapan sehari-hari. Tiba-tiba tangan ini terketuk ketika teman-temanku ramai membicarakan aksi di kampus mereka, menjawa pertanyaan para panelis "Kemana Mahasiswa?" Bolehlah mereka beraksi di depan gedung gedung bertingkat yang mahsyur itu. Percuma tapi. Telinga para dewan tak sedikitpun mendengar teriakan kalian. Habis energi ini untuk memperjuangkan aspirasi ibu-ibu yang menjerit akibat bahan pokok menaik, rupiah yang semakin ditelan dolar, hingga ketahanan energi yang semakin kacau balau.

Bagiku sendiri, aksi turun ke jalan hanya berkoar-koar membacakan petisi, tak langsung menuntaskan masalah yang ada. Mengutip orasi yang dikoarkan kakak tingkat kami tadi siang, "apa gunanya kalian menuntut ilmu, kalau masyarakat tak pernah merasakan terapan ilmu kalian. Buatlah suatu karya yang membantu mereka memecahkan masalah-masalah yang ada. Institut ini belajar tentang Teknologi, bukan belajar mengkaji dan berpolitik. Beraspirasilah melalui karyamu." Itu mungkin sedikit inti dari orasi beliau. Ya, sudah saatnya mahasiswa untuk berperan aktif dalam masyarakat. Menerapkan apa yang telah diajarkan para dosen di kuliah ke masyarakat sekitar. Pengabdian masyarakat dan aksi lain bisa jadi wujud kepedulian mahasiswa terhadap apa yang menjadi masalah dalam lingkungan mereka.

Buku 9 Summers 10 Autumns yang kubaca kemarin sedikit memberiku pencerahan akan apa peran dari mahasiswa ini. Mas Iwan penulis buku ini seringkali menceritakan pengalaman kehidupan selama di kampusnya. Keteladanannya dan ketekunannnya dalam belajar telah membawanya ke puncak impiannya menjadi direktur di perusahaan analis. Namun apa yang terjadi setelah itu? Ia pulang ke negerinya Indonesia, karena ia kecewa dengan dirinya dulu yang tak pernah berada di samping masyarakat. Ia kecewa dulu waktu menjadi mahasiswa tak bisa mewujudkan karyanya untuk negeri ini. Karena itulah ia berhenti dan pulang ke negeri ini, untuk sedikit membantu meringankan beban ibu pertiwi dengan menerbitkan bukunya yang telah memotivasi adek adek mahasiswanya. Karena ia tahu, ia tak bisa berbuat banyak dan berinovasi lagi. Giliran adek adeknya lah yang beraksi.

Kehidupan kampus yang diisi dengan belajar dan belajar tanpa menyisihkan waktu untuk berinovasi ditengah masyarakat sudah sering terjadi. Seakan-akan 4 tahun dia hanya berkutat dengan buku. Nasibnya akan tampak seperti mas Iwan yang kecewa dengan perilakunya dulu. Apalagi dengan kaderisasi-kaderisasi sampah yang tak menuangkan sedikitpun esensi nilai-nilai untuk membangun negeri ini. Lalu apa yang bisa kita, mahasiswa lakukan untuk menyikapi masalah negeri ini?

Saya yang berasal dari latarbelakang jurusan energi di fakultas ini merasa sedikit kecewa. Bertahun-tahun mahasiswa nya hanya bisa berkutat dengan kaderisasi-kaderisasi. Semua beralasan kaderisasi telah menyita waktu untuk berinovasi. Hanya sedikit dari mereka yang lolos dari jeratan kaderisasi ini. Program program karya yang ada di kampus ini hanya menjadi tontonan sekilas mata dibanding masa masa kaderisasi yang sangat ditakuti. Yah, kampus ini adalah kampus teknologi. Kampus dimana mahasiswa mahasiswa terbaik yang mampu berinovasi dengan teknologi. Tapi, apakah yang membatasi kalian, teman-teman??? Pertanyaan ini saya lempar kembali ke kalian mahasiswa. Sudahkah kalian berkarya???

Memang benar para panelis bertanya, KEMANA MAHASISWA??? Bolehlah aku berbangga kepada sedikit dari teman-teman ku yang telah berkarya dengan setulus hatinya untuk negeri ini. Tapi aku mengajak kalian semua untuk membalas pertanyaan itu dengan KARYA kalian untuk negeri ini. Wujudkan keinginan rakyat Indonesia yang ingin terbebas dari belenggu jajahan ekonomi ini. Kemana mahasiswa??? Silahkan kalian jawab dan renungi sendiri.

Kampus Ganesha, 17 April 2015

Ahmad Syafiq
Mahasiswa Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan

Komentar

Postingan Populer