Keluarga Baru di Tanah Pasundan
Permainan itu bermula dari bambu wulung. Wulung awi yang dipukul-pukul sebagai tradisi penghormatan binatang totem. Tak hanya itu, wulung awi dibunyikan saat panen padi yang melimpah sebagai rasa terima kasih kepada Nyai Sri Pohaci, Dewi Sri, dewi yang memberikan kehidupan dan kesejahteraan menurut prinsip mereka. Sunda, supervulcano purba yang dipercaya sebagai tempat berdiamnya para Dewa. Tanah suci dengan tradisi yang masih terjaga hingga kini. Tanah suci yang masih menjaga nilai nilai mistis leluhurnya. Dan beruntunglah UNESCO telah menjaga salah satu tradisinya menjadi warisan budaya dunia. Angklung ...
Yah, itulah sedikit nilai dibalik sebuah alat musik bambu khas dari tanah sunda ini. Angklung yang dulu hanya sebuah permainan telah terasimilasi dengan kebudayaan-kebudayaan yang silih berganti memasuki tanah sunda ini. Permainan yang kutahu adalah Permainan Angklung Buncis. Sejarahnya dulu permainan ini adalah ritual untuk mengantarkan padi dari sawah ke lumbung (tempat penyimpanan padi). Namun sekarang ritual ini semakin menghilang seiring hilangnya lumbung lumbung di tengah masyarakat dan tak pedulinya masyarakat dengan kepercayaan lama. Angklung Buncis sekarang hanyalah pentas hiburan semata tak bedanya dengan pentas angklung lain, hanya sedikit lebih klasik.
Angklung, alat musik yang kini menjadi pelepas lelahku ketika tugas menumpuk begitu banyak, ketika kepala mulai terbakar oleh rumitnya persamaan kalkulus dan arus listrik. Awalnya hanya tertarik saat melihat Saung Udjo di televisi saat itu, hingga sekarang aku bisa merasakannya. Tak masalah darimana asalku, karena sekarang Angklung adalah warisan yang harus kita jaga bersama sama. Kakak main angklung dimana emang??? Yapskii pertanyaan bagus banget. (/*wkwkwk tanya sendiri jawab sendiri*/). Benar juga sih, angklung adalah permainan musik yang butuh massa banyak, butuh kebersamaan yang bisa menciptakan harmonisasi musik yang indah dan menawan. Karena itulah aku mencari sebuah keluarga baru yang bisa menampung semua itu. Keluarga yang katanya begitu kental rasa kekeluargaan dan kebersamaannya. Keluarga yang akan menerima kita apa adanya. Keluarga yang ramah dan selalu mengajak bermain angklung bersama sama. Keluarga Paduan Angklung ITB.
Di tanah sunda ini aku menemukan keluarga baru. Secara resmi seminggu kemarin, tepat 1 Februari aku disambut hangat masuk ke keluarga ini. 1 Februari yang akan selalu dikenang oleh 119 anak anak kecil yang disambut menjadi adik dari kakak-kakak di keluarga ini. Bumi Perkemahan Kiara Payung Jatinangor menjadi saksi bisu tempat kami dilantik. Letaknya tepat di kaki Gunung Manglayang dengan suhu dingin dan kabut yang menyerbak di pagi itu. 100 bambu kecil sebutan kami mendapat banyak pernyataan dan pertanyaan dari kakak kami. Pertanyaan tentang usaha dan komitmen kami untuk keluarga ini. Ya usaha selama 6 bulan kemarin dan komitmen selama puluhan tahun kedepan di keluarga ini. Hahaha terharu kalau aku harus mengingatnya. Dan satu pernyataan yang selalu kami ingat, "119 bucil secara resmi dilantik menjadi anggota dari keluarga ..."
Subuh di Jatinangor tuh benar benar terasa khusyuk. Dingin udara sangat menusuk kalbu. Setelah jamaah selesai, tak ada lagi yang bisa dilakukan. Yang kulihat mbakku masih sibuk dengan laptop dan jemarinya yang usil memencet tombol hurufnya. Sungguh banyak tanggung jawabnya di keluarga ini. Kanan kiri kawan kawanku terkapar ditengah tengah aula. Yowes kuputuskan untuk keluar sendiri mencari celah celah kesegaran. Ya sendiri di tengah lapangan berkabut itu. Tak ada rasa gentar, takut, atau apapun. Malah aku merasa sedih, semua rekaman masa laluku bersama seseorang tiba-tiba terputar begitu saja. Kabut itu bercerita dan hanya aku dan ilalang yang tau betapa sukaduka nya dulu. Tubuh kecil terperosok tajam ke timbunan ilalang itu, menengadah ke kabut-kabut itu. Sepi ... Beku ... Aliran cerita itu menyadarkanku akan pentingnya sebuah komitmen dan janji. Karena komitmen dan janjilah yang akan selalu menyadarkanmu betapa banyaknya hal hal baik yang bisa dilakukan untuk memenuhi komitmen itu.
Lupakanlah sejenak pelantikan itu. Lupakan pula komitmen itu... Kembalilah ke keluarga baru ini. Dulu keluarga ini adalah bagian dari kelompok paduan suara di kampus ini. Entah apa alasannya, beberapa memisahkan diri dan membuat sebuah keluarga. 17 Maret 1972 (kalo gasalah - berarti bener) didirikan dengan tujuan untuk menjaga warisan budaya sunda ini agar tetap eksis di mata dunia. Ada banyak hal yang di dalam keluarga ini, mau aku sebutin satu per satu? di list aja ya.. Ini nih 10 testimoni tentang keluarga baruku :
1. Bisa main di penampilan Rektorat dan Dalam Kampus lain
2. Bisa juga nampil dalam negeri dan luar negeri, terakhir nampil di acara pagelaran di Singapura yang bertema Esplanade.
3. Konser tiap bulan yang bikin "panyang" (bhspadang, red : pusing) latian tiap hari.
4. Rulat yang nyaman buat konkow konkow kalau istirahat panjang
5. Cewek-ceweknya yang geulis geulis *eh
6. Apalagi ya, banyak yang cinlok dan akhirnya bikin keluarga dalam keluarga (*haha)
7. Oh ya yang paling penting. Angklung nya ada 9 set dan yang paling berat 1 kg yaitu Cgajah, kalau njatuhin dendanya 20 ribu wkwk.
8. Keluarga ini gak cuma nampilin lagu lagu daerah, tapi lagu lagu nge hits yang baru dirilis langsung gercep dibuat aransemen.
9. Dulu tertarik, terpana pada pandangan pertama saat PMB di Sabuga. Kereun nampilnya euy, clarity ciptaannya zedd di aransemen jadi alunan angklung.
10. Menghilangkan stress saat kalkulus melanda, alhamdulillah banyak hiburan dan cewek-ceweknya nyegerin mata.
/*slow, dulu pernah bilang ke temenku. Banyak banget cewek geulis tapi cuma mampir di pelupuk mata doang, gada yang bisa nyentuh sampai hati wkwkw */
Yah itulah sedikit cerita kecil dari keluarga baruku. Masih banyak yang bisa kulakukan untuk keluarga ini. Ribuan bahkan. Tapi satu hal yang selalu kupegang, ini semua demi Allah, bangsa Indonesia, dan Almamater ITB tercinta serta keluarga dirumah :)
Dan benar kata pepatah...
"Di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung"



keren :)
BalasHapusmakasih rifaa :) blogmu juga keren euy
BalasHapus