Tersimpan Sejuta Cerita Dibalik Layangan

Kuambil bulu sebatang
Kupotong sama panjang
Kuraut dan kutimbang dengan benang
Kujadikan layang-layang ....

Kalian mesti gak asing dengan lirik lagu diatas. Lagu anak-anak ini sangat populer hingga sekarang. Bahkan masuk kurikulum 2013 tingkat SD. wkwkw... Nge-trend banget kan lagunya. Yaps, layang-layang. Gak mau kalah dengan lagunya, bermain layang-layang juga menjadi aktivitas yang sering dilakukan akhir-akhir ini. Musim kemarau dan angin timur yang mulai bertiup jadi salah satu kesempatan untuk bermain permainan ini.

Layang-layang terbang mengisi kekosongan langit biru nusantara yang cerah. Langit desa maupun langit kota kian menarik dengan pernak pernik "layangan" yang terbang kesana kemari. Beradu dengan kecepatan angin dan tak jarang saling berkejaran satu sama lain. Semua mata selalu menengadah ke atas melihat indahnya langit yang penuh dengan layangan. Walaupun terik mentari membakar kulit, semangat anak-anak ini tak ada habisnya. Tak jarang anak-anak ini saling berkejar-kejaran ketika melihat layangan yang tak bertuan. Walaupun harganya tak seberapa, layangan tak bertuan ini selalu menjadi rebutan. Kemana arah jatuhnya, mereka akan terus mengejarnya. Tak peduli jalanan berlumpur di tengah sawah, demi layangan mereka terjang. Kenangan masa kecil yang tak semua orang mengingatnya.

By the way, yang udah gak inget masa-masa bermain layangan, inget gak layang-layang itu apa? Layang-layang itu mainan anak-anak yang unyu-unyu dan gampang banget mainnya. Ditempatku disebutnya "layangan". Layangan dibuat dari kerangka bambu tipis yang disilangkan membentuk huruf T dengan bambu yang horizontal agak dilengkungin, terus dilapisi dengan kertas minyak atau plastik, kalau udah dipasang senar-senar buat nerbangin layangannya. Jadi deh :D Gampang kan... Oh ya, sebelum diterbangin ada istilah lucu lho yaitu "luk" atau istilah kerennya agar layangan mudah diterbangkan dengan cara dibengkok-bengkokin ujung layangannya. Lucu banget kalau mereka bilang "yang kiri diluk sedikit" sambil teriak-teriak dari jauh.

Dibalik layangan yang sederhana itu ternyata asal mula layangan masih diperdebatkan. Sumber terdahulu mengatakan bahwa layangan berasal dari China yang dibuat dari sutra dan kerangka bambu emas yang diperkirakan sejak 2700 SM. Setelahnya muncul penemuan terbaru dari warga berkebangsaan Jerman, Wolfgang Biek pada tahun 2003 yang ia tulis dalam sebuah majalah berjudul "The First Kitman". Dalam penelitiannya tersebut ia meneliti bahwa Kaghati merupakan layang-layang tertua didunia. Kaghati? Yaps, namanya terdengar aneh mungkin. Kaghati adalah layang-layang tradisional yang dibuat oleh warga di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Layangan ini dibuat dari daun kering yang dirangkai dengan bambu. Menurutnya, Kaghati dibuat sejak sekitar 9000-5000 tahun sebelum masehi. Ia berani bilang kek gitu karena ngeliat ukiran di Gua Sugi Patani yang menggambarkan seseorang sedang menerbangkan layangan. Keren yaa, dengan ilmu arkeologi yang dimilikinya ia berhasil menyimpulkan bahwa Kaghati adalah layang-layang yang pertama kali dibuat di dunia. Wow... Sayangnya belum ada bukti-bukti sejarah yang lebih menguatkan opini dari Wolfgang ini.

Kaghati sendiri keberadaannya sampai sekarang masih terjaga dan selalu dimainkan warga saat panen raya. Dulunya Kaghati digunakan untuk acara keagamaan, seiring masuknya kebudayaan Islam, Kaghati tidak lagi digunakan dalam upacara ritual tersebut. Sekarang kita masih tetep bisa liat Kaghati terbang kog. Datang aja ke Pulau Muna sekitar bulan Juni-September. Pada waktu itu kita bisa melihat Kaghati bertebangan di langit Muna.

Ngomongin layangan di Indonesia, ada event main layangan secara besar-besaran namanya Festival layang-layang Nasional di provinsi DIY. Ada dua festival setiap tahunnya yang diadakan di dua tempat yang berbeda namun masih tetap di DIY. Festival ini berlangsung antara bulan Juni-Oktober. Pantai Glagah yang pertama menggelar festival ini di pertengahan tahun. Jika belum sempat mengikuti atau melihat layang-layang bertebangan di Pantai Glagah, di akhir tahun masih ada satu tempat lagi kog, di Pantai Parangkusumo, pantainya deket sama Parangtritis. Festival ini sangat sangat menarik. Ratusan layangan beraneka ragam memenuhi langit. Angin yang kencang di pesisir Selatan memudahkan layang-layang raksasa untuk ikut bergabung terbang. Yang paling menarik adalah beraneka macam layang-layang Naga yang sangat besar bentuknya juga ikut memeriahkan festival. Layang-layang naga ini memang menarik perhatian, bagaimana tidak bentuknya yang sangat besar serta proses membuatnya yang susah dan butuh ketelitian menjadi poin tersendiri. Festival ini tak hanya dimeriahkan oleh pecinta layang-layang lokal, banyak pecinta layang-layang internasional turut hadir. Banyak bule-bule juga lho yang manfaatin event ini buat sekadar numpang selfie.

Jika kita membahas layang-layang mungkin tak ada habis-habisnya. Tersimpan sejuta lebih cerita dibalik layangan yang mungkin kita tidak tahu. Layangan memang secara nakal telah menghipnotis kita sehingga kita lupa ada apa saja dibaliknya. Sesaat melihat anak kecil bermain layangan, seakan pikiran dan hati terbawa angin masa lalu. Bernostalgia dengan kenangan-kenangan bahagia dengan seikat tali senar dan "gelasan" serta layangan kesayangan. Berlari-lari hanya mengejar seutas benang yang berjalan mengambang. Terperosok ke lumpur-lumpur sawah. Dan itu semua kenangan yang membahagiakan :) 

Seperti kata Optimus Prime, "Karena kenangan itulah kita hidup." So, berikanlah sedikit kenangan masa lalu itu, ntah itu suka maupun duka. Dari kenangan itulah kita belajar bagaimana arti hidup. Bagian mana yang benar atau bagian mana yang salah dan tak harus kita injak lagi. Bolehlah kita lihat ke belakang sebatas untuk menilai masa depan yang akan kita lalui. Semangat teman-teman :) Ganbatte !!! Keep Hamasah !!!

"Karena kenangan itulah kita hidup"

Komentar

Postingan Populer